Category Archives: Renungan

BersedekahSaya mempunyai seorang kawan yang selalu gagap dalam mengucap takbir ‘Allahu Akbar’ ketika mengawali sholat. Begini; dia merapal doa dan niat –lantas mengangkat kedua tangannya. Sesaat dia tersentak kayak disadarkan oleh sesuatu, kemudian menurunkan tangannya. Dia memulai takbir lagi; dan di pertengahan dia tersentak kembali. Diulangi lagi. Sampai 3-5 kali, baru dia masuk ke tahap berikutnya.

Saya yang waktu itu kebetulan di sebelahnya, cukup terganggu. Karena saya dan makmum-makmum yang lain sudah pada ruku’ mengikuti imam, dia masih baru mulai.

Suatu ketika, saya menanyakan kenapa bisa seperti itu. Dan kawan saya itu menjawab :

Kawan (K): “Saya takut, Va.. Takut sholatnya nggak diterima Allah.”
Saya (O) : “Lho?! Kok bisa, mbro?!”

K : “Kan.. Membaca niat ‘usholli’ sama gerakan tangan itu HARUS pas.. Telat sedikit saja, shalat saya batal..
O : “Ah, masak?!?!?”

K : “Woo iya!! Kalau niatnya dibaca kecepatan, dan tangannya sudah terangkat duluan kan repot.”
O : “Ah, masak?!?”

K : “Wooo iya!! Kamu kan musisi.. Ibaratnya, kamu nyanyi di nada D.. Padahal suara gitar sudah masuk nada G!! Fales..”
O : “Hmmmm…” (Kayaknya gak gitu deh, pikir saya dengan tetap manggut-manggut)

K : “Harus koheren.. Sejajar.. Presisi… “

Saya merasa kasihan dengan kawan saya. Saaangat kasihan.

Heem iya, kasian. Trus gimana?

Nggak. Ini bukan tentang kejadian konyol di jalan –seperti cewek cantik ketabrak tiang, atau saya yang kena tilang. Bukan yang kayak gitu. Ini tentang pemandangan yang oleh Dosen Desain saya, Sumbo Tinarbuko disebut, “sampah visual“.

Yang namanya sampah, tentu selalu dikonotasikan dengan jorok atau buruk. Umat manusia pun menciptakan benda bernama  ‘tempat sampah’. Namun anehnya, ada beberapa manusia yang malah sengaja mem-visual-kan sampah-sampah itu. Oke, tentu bukan sampah kayak plastik kresek atau dedaunan. Sampah visual ini adalah benda-benda promo yang bertebaran di tembok jalanan, tiang listrik, halte dan tempat-tempat publik lainnya. Banner, selebaran, spanduk, –namun mayoritas berbentuk poster. You named it: poster iklan event musik, poster jasa sedot WC, poster iklan rokok, poster orang hilang, poster badut pesta dan kawan-kawan.

Sampah itu basi, so sampah visual tentu poster-poster yang sudah kadaluarsa –namun masih tetap menempel. Saya rasa, gak perlu disebutkan contohnya. Keluarlah ke jalanan, dan temukan sendiri betapa banyaknya. Menggelikan.

Kemarin saya berbincang dengan seorang kawan, dan menemukan bentuk baru dari ‘sampah visual’ ini. Jenis yang satu ini hanya muncul di masa-masa terntentu. Celakanya, sampah ini tidak hanya menggelikan –namun juga mengerikan. Kami menyebutnya dengan ‘sampah visual norak’. Baik dari segi artistik, tata letak, photo, dan konsep –super norakkkk!!!

Well, mungkin terlalu kasar ya menyebut media-media itu sebagai ‘sampah’. Oke, kita ganti saja istilahnya dengan ‘Dagelan di Jalanan’. Definisi adalah… ngggg, saya males menjelaskan. Lihat saja sendiri sedikit contohnya. Betapa mengerikan..

Maaf buat fakir bendwit, banyak potonya..

Tosca

Sore tadi, Abah pergi ke Jogja menghadiri pernikahan Gus Kelik  bersama Ibuk, dan kedua Mbak saya. Saya –seperti biasa, ditinggal di rumah. Selain karena banyak tugas, mengajar, dsb –saya juga berniat menjajah barang-barang di rumah. Moahahahaha. Setelah diberi uang saku untuk makan ala kadarnya, mereka berangkat. Oke. Sepertinya tidak ada yang aneh. Kemudian jam 5 sore, saya menemui siswa-siswa yang nyetor hapalan Juz Amma –seperti biasa. Selesai session hapalan itu, hengpon saya berbunyi. Ada SMS.

Ibuk : “Obatnya Abah ketinggalan, Va. Tolong carikan kerabat yg juga pergi ke Jogja, dititipkan.”
Saya bales : “Oke. Oke. Yang di meja makan itu ya?”

Ibuk : “Ya. Dimasukin plastik, diiket rapi ya.”
Saya : “Oke, oke.”

Saya ke meja makan, meraih semua yang masuk kategori obat (ada botol, kapsul, pil dan macem-macem) kemudian memasukkannya ke dalam plastik dobel. Rapi. Sipp!! Sekarang tinggal nyari kerabat yang juga diundang Gus Kelik. Belum sempet nyari, Ibuk SMS lagi –bilang ada kerabat bernama Huda yang besok pagi berangkat subuh-subuh. Jadi ada waktu nanti malam untuk mengantarkan titipan obat itu. Oke, saya balas lagi seperti itu –kemudian saya bersiap mandi untuk ritual Maghrib.

Selesai sholat. Saya cek hengpon saya, ada SMS dari Ibuk lagi : “Va, ada yang ketinggalan lagi. Di kamar Ibuk yg bawah, lemari sebelah timur ada kain warna ijo tosca. Paling bawah. Seragam. Bungkus koran, dititipkan sekalian.”

Sekali lagi saya bales, “Oke, oke.” Kemudian saya menuju kamar Ibuk. Membuka lemari. Oke, oke.. Terkunci. Mampuss!!

Waduh gimana ini?!

Saya suka mikir saat lg ada masalah sama orang yang lebih dewasa –orang tuwa, mbak², mas², atau siapapun– “Kenapa sih orang dewasa selalu begitu?!” or “Kenapa sih mereka gak ngerti aku?!?”

Saya cari jawabannya, *sebenarnya sih nyari kesalahan orang² dewasa itu– dan gak pernah ketemu.. Sampe sadar bahwa: Saya sendiri yang salah!! Saya baru sadar: Wajar orang² tua mempermasalahkan anak muda, karena mereka MEMANG pernah menjadi anak muda. Dan, anak muda kan belum pernah merasakan menjadi tua..

Rait or rong sih?!
Hmmmmm, oke trus gimana?

Post Navigation