#28 : Insya Allah

Abuya, jangan bilang Insya Allah!”

“Lho, orang Islam kan harus bilang Insya Allah, kan yang menentukan segalanya adalah Allah!”

“Tapi kenapa setiap dalem minta sesuatu dan Abuya bilang Insya Allah, dalem ndak jadi dibelikan?!?”.

Tadi adalah percakapan antara keponakan saya yang berumur 6 tahun dan ayah-nya (kakak ipar saya). Menohok.

Insya Allah –tentu saja– dari bahasa arab : “in”, “sya’a” , dan “Allah”. “In” adalah kata penghubung, satu kasta  dengan in, for, from, by (dalam inggris). Sya’a Allah, berarti : kehendak Allah. Maka, frase itu bermakna “atas kehendak Allah” atau “jika Allah berkehendak“.

Sesuai makna aselinya, frase “insya allah” ini digunakan sebagai pelengkap suatu statemen positif “Ya!”, “Benar!”, “Oke!”, “Bisa!!”, dan semacamnya.  Itu menjadi doa atas sesuatu yang kita rencanakan. Karena sebagai ‘pelengkap’, maka lazimnya –diucapkan SETELAH statemen. Karena doa selalu datang setelah ada usaha. Gitu kan yah?

“Desain poster kapan jadinya?! Besok bisa?”

“Woh, iya bisa!! Insya Allah..”

“Bro, besok bisa ikut sesi pemotretan Asmirandah?!”

“Bisa! Bisa!! Insya Allah, bisa!! “

Kata “iya” dan “bisa” menjadi usaha si pelaku mewujudkan rencananya, dan “insya allah” menjadi doa-nya. Idealnya seperti itu.

Uniknya, di masyarakat kita. Insya Allah udah gak bermakna ‘positif’ melainkan justru cenderung ‘negatif’. Suatu istilah yang digunakan untuk menunjukkan penolakan, keraguan, ke-enggan-an atau ketidak-siapan secara halus. Dan seringkali diletakkan di depan –sebelum statemen, –plus erangan.

“Kaos pesenanku dateng kapan, mas?

“Ngggg, insya allah, tiga hari!!”

“Bro, besok bisa ikut sesi kedua seminar dan rapat!”

“Ngggg, insya allah… Insya allah bisa, bisa..”

Kalo ditelusuri, maka maknanya menjadi : “Kalo Tuhan berkehendak, maka iya bisa”. Seolah-olah menyerahkan dan ‘menyalahkan’ Tuhan jika nanti statemen ‘iya’-nya ngga terwujud. Membebaskan diri dari perasaan guilty karena mengecewakan lawan bicara. Ketika esok hari ditanya, tentu berkelit dan berdalih; “Kemaren aku udah bilang ‘insya allah’ kan. Sorry ya..”

Hari gini, insya allah udah bermakna : “Nggak janji lho yaaaa”.

Yang menyedihkan, saking kelirunya kita memaknai “insya allah” –banyak yang kemudian menolak dikasih ucapan itu. Misalnya ya, ada yang bilang dengan tulus. “Oke!! Entar aku temenin kamu belanja, insya allah!!”  kemudian direspon balik dengan. “Halah!! Jangan insya allah, insya allah dong!! Meragukan tauk! Yang pasti-pasti aja! Bisa nggak? “

Familiar?

Budaya kita memang terpuji, sangat sopan dan halus. Kita nggak ingin mengecewakan orang dengan janji-janji –yang kita TAHU tidak bisa kita tepati. Kemudian kita menyelimuti janji kita dengan selimut ‘insya allah’; dengan tujuan –meski gak bisa dipenuhi, tentu bisa dimaafkan karena Tuhan berkehendak lain. Bisa dimaafkan karena kalimat sakti; “insya allah”.

Kita manusia –mahluk yang cenderung bergantung pada harapan. Janji dengan ‘Insya Allah’ mengandung harapan. Dan betapa menyakitkannya ketika suatu harapan itu hilang. Alih-alih tidak ingin mengecewakan, kita justru melipat-gandakan kekecewaan yang diderita kawan atau kerabat yang kita kasih “Insya allah” tadi.

Kita belum berusaha, tapi udah menggantungkan rencana pada Tuhan.

Kenapa kita nggak berterus terang, banyak ungkapan halus tanpa perlu mencatut nama Tuhan kan?

-

-

Atau, gimana?

, , ,

  1. #1 by inthepain - April 4th, 2010 at 01:15

    salam kenal mas ova…
    :) maaf kalo kurang sopan
    tapi sepertinya gaya kita sama 8-)
    pas sekali saya yang sedang mencari jati diri blog saya…
    mohon izin untuk menjadikan mustova.com sebagai inspirasi…. |-)

    Respon

  2. #2 by GT King - April 6th, 2010 at 19:04

    :cry: …………………………………….mas masova…..a……a…..a.a…….. ka…sssiiiihhhh ttaaauuuu ddong, jawaban kuiz parampaa lv.100,PLEASE….

    Respon

  3. #3 by Farhan - April 16th, 2010 at 20:18

    untuk memberitahu, tmen saya copy paste gambar dari sini dan bilang itu buatan dia : http://bit.ly/a2kMk5

    Respon

  4. #4 by jemi - April 20th, 2010 at 13:53

    artikel yang bagus :music:

    Respon

  5. #5 by Ian - April 21st, 2010 at 12:13

    saya setuju dengan mas ova :)

    Respon

    Wisnu Reply:

    SSSSSSSSSEEEEEEEEEEETTTTTTTTTTTTTTUUUUUUUUUUUUUJJJJJJJJJJJJJUUUUUUUUUUUUUU!!!!!!!! :woot:

    Respon

  6. #6 by syifa - May 1st, 2010 at 17:46

    insya allah memang kata sopan yang bagus! :kikik:

    Respon

  7. #7 by Yoga - May 7th, 2010 at 11:36

    artikel yang bagus…..
    hayo yang merasa MUSLIM….
    gimana tanggapannya….
    sad fact….
    but it’s true…. :music:

    Respon

  8. #8 by hahn - May 16th, 2010 at 22:04

    kalo di sunda, insya allah yang bener bener insya allah biasa disebut insya allah islam. kalo cuma basa basi, disebut insya allah sunda :lol:
    :oya: :oya:

    Respon

  9. #9 by prof. helga - June 1st, 2010 at 11:01

    :oya: :oya:

    persis ama apa yang gue alamin
    :kikik: :kikik: :kikik:

    Respon

  10. #10 by Alfika Fauzan - June 17th, 2010 at 11:27

    halo mas masova… mainan parampaa nya seru abis hehe… |-) :fufu: :kikik: :woot:

    Respon

  11. #11 by Chalu - June 21st, 2010 at 15:07

  12. #12 by Chalu - June 21st, 2010 at 15:09

    level komplementer 3 tu apaan yach :hoahm:

    Respon

  13. #13 by farid ahmad - July 4th, 2010 at 12:42

    :fufu: bisa di bilang ambigu yah ^^

    Respon

  14. #14 by massigit - July 25th, 2010 at 09:20

    betul juga ya.. saya juga kadang seperti itu.. :cry: Ternyata masih banyak yang harus diperbaiki, mudah2an bulan Ramadhan kali ini dapat pencerahan lagi. Amin.

    Respon

  15. #15 by hujantanpapetir - July 25th, 2010 at 23:33

    :) :) hehehe, thanks for sharing….

    Blognya lucuuuu……

    Respon

(gak mungkin saya sebarin)
Hajar

*
Untuk menghindari spam, monggo sebutkan nama jajanan favoritmu!!
Anti-spam image

Subscribe to comments feed
  1. No trackbacks yet.

SetPageWidth