Saya mencoba mengingat-ngingat; sejak kapan ya (acara) televisi sudah tidak menarik lagi?

Sebab ada masanya di mana televisi menjadi hiburan utama saya; yaitu di jaman anime Saint Seiya saat Putri Athena ketusuk panah di dadanya, jaman McGyver yang sekarat dan era keemasan Kotaro Minami berubah jadi RX, Robo dan Bio. Waktu itu, tiap pulang sekolah rame-rame nongkrong sama temen-temen di depan televisi dan ngobrolin episode minggu lalu dengan seru. Kayaknya, dulu saya hampir tidak pernah absen nonton film-film kegemaran.

Oh saya ingat!!

Waktu itu ada teknologi bernama PC, Personal Computer. Saya lebih tertarik dengan itu. Saat itu, tentu belom secanggih sekarang. Layar monitor masih CGA dan sistem operasi-nya memakai Ms-DOS. *buset, tahun kapan tuh mas?!* *sial, ketahuan umurnya, hahag*

Buat saya, meski warna-warnanya belum sekaya televisi, komputer telah juaara. Karena ada interaksi langsung di sana. Game Prince of Persia misalnya, terasa lebih seru karena saya menjalankan tokoh utamanya. Dia selamat dari jebakan piso atau berhasil mengalahkan penjaga itu jelas karena saya. Kalau di televisi, tokoh utamanya gak bakal nurut meski kita teriak-teriak dan mencetin remote. (“Hoiy! Goblok!! Jangan ke situ!! Di situ ada musu– Tuhkan! Ketangkep! Dibilangin gak percaya!!”)

Menginjak dewasa, televisi benar-benar menjadi saaangat tidak menarik. Well, kecuali tayangan yang menampilkan Asmirandah sih ya. *duh, salah fokus* Tapi yaa, tau sendiri kan. Acara-acara hiburan di televisi lokal jaman sekarang isinya paling : sinetron, gosip artis dan reality show. Ketiga-tiganya gak ada yang masuk akal. Sinetron sudah saya bahas di sini. Gosip artis mengumbar rahasia-rahasia kehidupan orang yang (sebenarnya) gak signifikan buat kehidupan saya. Dan reality-show yang penuh dengan tipuan; pengunjung random dihipnotis pake api trus dia ngumbar aib pasangannya?! Oh, please gimme a break.

Bagaimana dengan musik, Mas? Kan banyak acara-acara musik di televisi.

Hiburan musik di televisi ini maksudnya Inbox, Dahsyat dan semacamnya? Di mana para musisi dipaksa lip-sync di panggung sementara para penonton bayaran joged monoton cuci-jemur cuci-jemur? Seriously?

Dulu masih mending ya. Ada acara musik yang mengulas dan menampilkan klip-klip video musik, kemudian ngobrol seru sama musisinya. Sekarang musisi dicela-cela di panggung, diketawain pengunjung. Kasihan. Maka, untuk mendengarkan musik, saya lebih memilih beli CD originalnya; ~atau nonton klip-klip video yang di youtube. Lebih enak, karena bisa diputer lagi. Kalo di televisi, ketinggalan lagu gak bisa diulang. Trus di youtube banyak musik-musik yang gak ditayangkan di televisi.

Ngomong-ngomong soal YouTube, ironisnya, stasiun-stasiun televisi malah bangga mencantumkan “Courtesy of YouTube” di beberapa tayangan. Ini sangat menyedihkan sekaligus menggelikan. Karena:

1. YouTube bukan pihak yang bikin konten video itu. YouTube hanya media yabg menyiarkan. Stasiun televisi harusnya sih menelusuri asal video itu. Siapa yang upload, dan memastikan itu benar-benar milik dia. Kemudian mencantumkan namanya di siaran itu. Nggak hanya asal tayang. Lebih jelasnya bisa dibaca di sini.

2. Video di YouTube itu sejatinya hanya disiarkan dan ditonton di internet. Thus, banyak video yang file-nya dikompres agar ukurannya ringan dan bisa dibuka di internet dalam waktu singkat. Kualitasnya menjadi rendah. Kalau video itu ‘dipindah’ ke televisi, tentu saja gambarnya BURUK sekali. Resolusi rendah dan detail hilang. Padahal, namanya siaran televisi; harusnya kan jelas dan jernih. Biar tidak muncul fitnah. *halah*

Trus kalo berita-berita bagaimana, mas? Di televisi kan banyak berita aktual dan terpercaya gitu.

Hmmm.. Kayaknya twitter jauh lebih aktual deh. Semua berita-berita bisa muncul saat kejadian itu juga, langsung dari saksi mata. Meski saya nggak follow suatu account penyedia berita, tapi berita itu masih bisa tersampaikan berkat teknologi bernama ReTweet. Well, tentu saja; satu tweet (apalagi twit personal) belum tentu terpercaya. Masih perlu kroscek kebenarannya juga. Untuk twitter thingy ini perlu pembahasan khusus.

Tapi ya gitu, ketika saya nonton televisi, berita yang ditayangkan sudah cukup basi. Karena saya sudah tau tentang itu berjam-jam sebelumnya. Timeline twitter penuh dengan cerita dan berita. Nanti, untuk tahu detail beritanya, saya baru buka website stasiun televisi yang bersangkutan.

Sebentar, Mas. Kan televisi bisa buat nonton DVD. Atau main game PS. Atau pake tipi kabel, indovisyen.

Saya lebih suka nonton film di layar monitor komputer saya. Cuma 17 inch, tapi lumayan lah. Game PS? Sudah ada game-game komputer juga. Untuk game-game yang eksklusip di PS3, bisa numpang main di temen. Haha. Acara-acara show dan serial di tipi kabel? Semua juga ada di internet.

Untuk waktu yang lama,  saya berhenti nonton (acara) televisi. Kecuali kalau nanti ada gebrakan tontonan super keren yang muncul di salah satu stasiun televisi.

Jadi, please jangan tanya-tanya lagi ya. “Mas, nonton Asmirandah di tipi gak barusan?”

116 tanggapan untuk “#47 : Hidup tanpa Televisi

  1. paling seru jaman satria baja hitam

Comment navigation

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

:-) :blush: x) :-w :iyagitu: :fufu: :sorry: :kishi: :gross: :die: 8( :hihi: :-? more »

Post Navigation