#15 : Endah & Rhesa
Posted by masova in Comicstrips, Musik, Review on May 7th, 2009
Nama Endah Widiastuti dan Rhesa Aditya (disingkat Endah N Rhesa) mungkin sangat asing di telinga penikmat musik ‘mainstream’ Indonesia. Sama hal-nya dengan nama Efek Rumah Kaca yang tenggelam oleh ‘wibawa’ ST12, d’Masiv atau Ungu *sigh*–kualitas dua musisi (amat sangat) berbakat ini mungkin masih tertutup nama Prisa atau Maia (well, rasanya saya keliru membandingkan, karena formatnya beda). Hanya beberapa orang yang tahu, dan saya beruntung bisa menjadi salah satu yang sadar akan keberadaan mereka.
Mereka adalah duo akustik; Endah memainkan gitar dan bernyanyi, sementara kekasihnya Rhesa menimpali dengan bass. Anu, susah sekali untuk me-review masing-masing dari pasangan ini. Karena keduanya saling mengisi, ndak bisa dipisahkan. Seandainya Endah main sendirian, tanpa Rhesa –kayaknya ada yang kurang. Begitu pula sebaliknya.
Album mereka “Nowhere to Go”, penuh dengan lagu-lagu folk-jazz berkualitas A+. Saking hebatnya, setelah mendengar semua track –kamu akan merasa ingin sekali bertemu dan menyalami mereka, sambil bilang. “I love you guys!!!”
#14 : Face and Book
Posted by masova in Comicstrips, Iseng on April 7th, 2009

Disclaimer : Sori kalo ada yang terganggu. Tidak bermaksud me-refer ke satu orang tertentu. Sumpah.. Hahag.Jika ada yg merasa annoyed, maaf dan terima kasih. Maaf kalau menyakiti, terima kasih atas perhatiannya..
–
Tahun 2004, Mark Zuckerberg bikin semacam “buku alumni” untuk menyimpan data teman-temannya di kampus. Waktu itu, di dalam “buku alumni” tersebut cuma ada data-data almamater-nya, Universitas Harvard. Di tahun 2005, thefacebook dirilis, dan beberapa kampus lain ikut mendaftar –seperti Stanford, NYU, dan Northwestern. Kemudian, tahun demi tahun, aplikasi yang awalnya iseng ini kemudian merambah ke seluruh dunia. Tidak cuma ‘mendaftar’ kampus (college), melainkan juga sekolah-sekolah menengah. Indonesia yang gahul pun terjangkiti. Cuma gini aja? Lanjutannya mana?!
#1.4 Farewell
Posted by masova in Uncategorized on April 1st, 2009
Terima kasih untuk semua support-nya. Senang sekali mengenal kalian semua..
Good bye, every one . . . : )
#14
#1 - 4
Masova + Parampaa
#14
#1.4 (1 April)
#13 : KTP dan SIM Canggih
Pagi-pagi, saya ditilpun oleh Bu Sulis. Bukan, beliau bukan penyanyi sholawatan itu. Beliau adalah Polwan, Polisi Wanita *iya, siapapun juga tau singkatannya*. Btw, saya biasa memanggil beliau Bu Lis –dan dalam bahasa arab, al-buulis memang bermakna polisi. Coincidence, kah?! Hohoho..
“Masova.. SIM-nya sudah jadii. Mau diambil kapaan?!?” kata beliou di telepon.
(Beberapa hari yang lalu saya memproses SIM baru karena yang lama patah, dan masa aktifnya juga sudah mau habis. Lagian pulsanya tinggal sedikit. *Oi, ini SIM!!! Bukan simcard, va!!!*. Kata Pak Polisi, karena materialnya belum datang –SIM baru saya tidak bisa langsung jadi. Musti menunggu 2-3 hari.)
Saya bilang kepada Bu Lis, bahwa saya sebentar lagi berangkat. Kemudian, ketika menstarter motor, saya inget kalau kemarin menjanjikan potokopi KTP kepada Bu Lis. Sebagai salah 1 persyaratan, katanya. Tapi saya sadar kalau KTP saya hilang. Hmmm, sekalian saja. Saya pergi ke Kelurahan untuk mbikin KTP pengganti.
Brrrrrm. Sampai di Kelurahan :
Petugas : “Hilang? Ada surat keterangan hilang dari Polsek?!”
Saya : “Tentu saja tidak.”
Petugas : “Monggo, minta dulu Surat Hilang di Polsek. Nanti ke sini lagi.”
Saya meluncur ke Polsek, kemudian minta Surat Kehilangan itu. Sambil diproses, saya ditanyain macem-macem –seperti, “Asmirandah itu jomblo, ya Mas?!” atau “Pilem Pocong Beranak sudah dirilis belum ya?!”. Meh, ini Polsek apa infotainment?!?
#12 : Dagelan di Jalanan
Nggak. Ini bukan tentang kejadian konyol di jalan –seperti cewek cantik ketabrak tiang, atau saya yang kena tilang. Bukan yang kayak gitu. Ini tentang pemandangan yang oleh Dosen Desain saya, Sumbo Tinarbuko disebut, “sampah visual“.
Yang namanya sampah, tentu selalu dikonotasikan dengan jorok atau buruk. Umat manusia pun menciptakan benda bernama ‘tempat sampah’. Namun anehnya, ada beberapa manusia yang malah sengaja mem-visual-kan sampah-sampah itu. Oke, tentu bukan sampah kayak plastik kresek atau dedaunan. Sampah visual ini adalah benda-benda promo yang bertebaran di tembok jalanan, tiang listrik, halte dan tempat-tempat publik lainnya. Banner, selebaran, spanduk, –namun mayoritas berbentuk poster. You named it: poster iklan event musik, poster jasa sedot WC, poster iklan rokok, poster orang hilang, poster badut pesta dan kawan-kawan.
Sampah itu basi, so sampah visual tentu poster-poster yang sudah kadaluarsa –namun masih tetap menempel. Saya rasa, gak perlu disebutkan contohnya. Keluarlah ke jalanan, dan temukan sendiri betapa banyaknya. Menggelikan.
Kemarin saya berbincang dengan seorang kawan, dan menemukan bentuk baru dari ’sampah visual’ ini. Jenis yang satu ini hanya muncul di masa-masa terntentu. Celakanya, sampah ini tidak hanya menggelikan –namun juga mengerikan. Kami menyebutnya dengan ’sampah visual norak’. Baik dari segi artistik, tata letak, photo, dan konsep –super norakkkk!!!
Well, mungkin terlalu kasar ya menyebut media-media itu sebagai ’sampah’. Oke, kita ganti saja istilahnya dengan ‘Dagelan di Jalanan’. Definisi adalah… ngggg, saya males menjelaskan. Lihat saja sendiri sedikit contohnya. Betapa mengerikan..

